Ruang eksplorasi & eksperimen kecil tentang digital marketing dan hal lainnya.Yogyakarta · 2026

SEO

Catatan Praktik SEO #1: Audit Awal dengan Search Console dan PageSpeed Insights

Audit pertama yang aku jalankan saat memindahkan rizqiakbar.com: apa yang dibuka, apa yang ditemukan, dan cara membacanya untuk website bisnismu sendiri. Gratis, sekitar dua jam.

Catatan Praktik SEO #1: Audit Awal dengan Search Console dan PageSpeed Insights

Catatan Praktik adalah seri tentang task SEO yang aku kerjakan sendiri di situsku, lengkap dengan angka dan kesalahannya. Episode pertama: audit awal.

Jawaban singkatnya: audit awal cukup memakai dua alat gratis. Google Search Console menunjukkan apakah Google bisa menemukan dan mengindeks halamanmu. PageSpeed Insights menunjukkan seberapa cepat dan nyaman halamanmu dibuka. Lima langkah di bawah bisa selesai dalam sekitar dua jam.

Situs yang diaudit

Situsnya rizqiakbar.com, portofolio dan blog dua bahasa yang dulu memakai WordPress dan Elementor di shared hosting. Skor Performance PageSpeed di mobile waktu itu sekitar 70-an. Audit ini menjadi dasar keputusan memindahkannya ke platform lain, yang ceritanya ada di studi kasus migrasi.

Langkah 1: PageSpeed Insights, dan dua jenis data di dalamnya

PageSpeed Insights menampilkan dua jenis data. Data lab diukur Lighthouse di lingkungan simulasi, berguna untuk mencari masalah. Data lapangan berasal dari pengunjung sungguhan lewat Chrome User Experience Report, selama 28 hari terakhir (dokumentasi PageSpeed Insights). Situs kecil sering belum punya data lapangan karena pengunjungnya belum cukup.

Skor lab bisa berubah dari satu pengujian ke pengujian berikutnya, jadi jalankan dua atau tiga kali dan mulai dari hasil mobile. Ambang yang dianggap baik untuk Core Web Vitals: LCP paling lama 2,5 detik, INP paling lama 200 milidetik, dan CLS paling tinggi 0,1 (web.dev).

Sebelum (WordPress)

Sesudah migrasi

Performance, mobile

Sekitar 70-an

99

Performance, desktop

Tidak dicatat

100

LCP, mobile

Tidak dicatat

1,8 detik

LCP, desktop

Tidak dicatat

0,6 detik

Angka "sebelum" adalah ingatan dari pengujian waktu itu, karena aku tidak menyimpan laporannya. Pelajaran pertama: simpan tangkapan layar hasil audit awal, supaya perbandingannya bisa dibuktikan.

Langkah 2: Laporan Halaman di Search Console

Laporan Halaman (Page indexing) membagi URL menjadi yang terindeks dan yang tidak, beserta alasannya. Google sendiri menegaskan tidak semua URL harus terindeks, tapi semua halaman penting harus (Bantuan Search Console). Setelah situs pindah, laporan ini mencatat 20 URL yang tidak terindeks:

Alasan

Jumlah

Artinya

Tindakan

Not found (404)

7

URL lama yang sudah tidak ada

Redirect ke halaman pengganti, atau biarkan kalau memang tidak ada penggantinya

URL marked noindex

4

Halaman yang sengaja tidak diindeks

Pastikan bukan halaman penting

Page with redirect

3

URL yang dialihkan ke URL lain

Normal, tidak perlu tindakan

Soft 404

1

Halaman bertuliskan "tidak ditemukan" tapi merespons sukses

Ubah agar merespons 404 atau 410, atau isi halamannya

Alternate page with proper canonical

1

Versi lain dari halaman yang sudah terindeks

Tidak perlu tindakan

Crawled, currently not indexed

4

Sudah dibaca Google tapi belum diindeks

Perbaiki isinya kalau penting, lalu tunggu

Sebagian besar ternyata sisa URL WordPress lama. Cara membereskannya akan dibahas di Catatan Praktik berikutnya.

Langkah 3: Sitemaps

Pastikan sitemap sudah dikirim, statusnya berhasil dibaca, dan jumlah URL yang ditemukan masuk akal. Sitemap rizqiakbar.com berisi 52 URL. Kalau angkanya jauh lebih besar dari jumlah halaman yang kamu kenal, biasanya ada halaman tag, arsip, atau lampiran yang ikut masuk.

Langkah 4: URL Inspection untuk halaman terpenting

Pilih lima halaman yang paling penting untuk bisnismu, misalnya beranda, halaman layanan, dan kontak. Untuk masing-masing, buka URL Inspection, klik Test live URL, lalu lihat halaman yang diuji. Di sinilah aku memastikan Google sudah melihat situs yang baru, bukan versi WordPress. Kalau halaman penting belum terindeks, klik Request indexing.

Langkah 5: Cek status setiap URL di sitemap

Terakhir, buka setiap URL di sitemap dan periksa dua hal: kode responsnya 200, dan tag canonical-nya menunjuk ke dirinya sendiri. Untuk situs kecil, versi gratis Screaming Frog cukup, karena bisa memeriksa sampai 500 URL dan membaca sitemap dalam mode daftar (Screaming Frog). Hasil di rizqiakbar.com: 52 dari 52 URL merespons 200 dengan canonical yang benar.

Yang aku pelajari

  • Skor PageSpeed bukan segalanya. Google tetap mendahulukan konten yang paling relevan, bahkan kalau pengalaman halamannya kurang baik.
  • Daftar "tidak terindeks" terlihat menakutkan, padahal sebagian besar isinya normal. Yang penting adalah halaman bisnis utama sudah terindeks.
  • Simpan bukti di awal. Angka "sebelum" yang tidak tercatat tidak bisa dipakai sebagai bukti.

Versi budget terbatas

Pilihan

Biaya

Waktu

Hasil

Dikerjakan sendiri dengan lima langkah ini

Gratis

Sekitar dua jam

Gambaran kondisi dasar dan daftar masalah yang jelas

Tools berbayar seperti Ahrefs atau Semrush

Langganan bulanan

Lebih cepat untuk situs besar

Data tambahan seperti backlink dan pesaing

Pakai jasa audit

Sekali bayar

Hampir tanpa waktumu

Daftar perbaikan berurutan, plus penjelasannya

Kalau ingin auditnya dikerjakan dan dijelaskan, lihat audit SEO & GEO. Rentang waktu sampai hasil terlihat dibahas di berapa lama SEO memberi hasil.

Tulisan lain