SEO
Catatan Praktik SEO #1: Audit Awal dengan Search Console dan PageSpeed Insights
Audit pertama yang aku jalankan saat memindahkan rizqiakbar.com: apa yang dibuka, apa yang ditemukan, dan cara membacanya untuk website bisnismu sendiri. Gratis, sekitar dua jam.

Catatan Praktik adalah seri tentang task SEO yang aku kerjakan sendiri di situsku, lengkap dengan angka dan kesalahannya. Episode pertama: audit awal.
Jawaban singkatnya: audit awal cukup memakai dua alat gratis. Google Search Console menunjukkan apakah Google bisa menemukan dan mengindeks halamanmu. PageSpeed Insights menunjukkan seberapa cepat dan nyaman halamanmu dibuka. Lima langkah di bawah bisa selesai dalam sekitar dua jam.
Situs yang diaudit
Situsnya rizqiakbar.com, portofolio dan blog dua bahasa yang dulu memakai WordPress dan Elementor di shared hosting. Skor Performance PageSpeed di mobile waktu itu sekitar 70-an. Audit ini menjadi dasar keputusan memindahkannya ke platform lain, yang ceritanya ada di studi kasus migrasi.
Langkah 1: PageSpeed Insights, dan dua jenis data di dalamnya
PageSpeed Insights menampilkan dua jenis data. Data lab diukur Lighthouse di lingkungan simulasi, berguna untuk mencari masalah. Data lapangan berasal dari pengunjung sungguhan lewat Chrome User Experience Report, selama 28 hari terakhir (dokumentasi PageSpeed Insights). Situs kecil sering belum punya data lapangan karena pengunjungnya belum cukup.
Skor lab bisa berubah dari satu pengujian ke pengujian berikutnya, jadi jalankan dua atau tiga kali dan mulai dari hasil mobile. Ambang yang dianggap baik untuk Core Web Vitals: LCP paling lama 2,5 detik, INP paling lama 200 milidetik, dan CLS paling tinggi 0,1 (web.dev).
Sebelum (WordPress) | Sesudah migrasi | |
|---|---|---|
Performance, mobile | Sekitar 70-an | 99 |
Performance, desktop | Tidak dicatat | 100 |
LCP, mobile | Tidak dicatat | 1,8 detik |
LCP, desktop | Tidak dicatat | 0,6 detik |
Angka "sebelum" adalah ingatan dari pengujian waktu itu, karena aku tidak menyimpan laporannya. Pelajaran pertama: simpan tangkapan layar hasil audit awal, supaya perbandingannya bisa dibuktikan.
Langkah 2: Laporan Halaman di Search Console
Laporan Halaman (Page indexing) membagi URL menjadi yang terindeks dan yang tidak, beserta alasannya. Google sendiri menegaskan tidak semua URL harus terindeks, tapi semua halaman penting harus (Bantuan Search Console). Setelah situs pindah, laporan ini mencatat 20 URL yang tidak terindeks:
Alasan | Jumlah | Artinya | Tindakan |
|---|---|---|---|
Not found (404) | 7 | URL lama yang sudah tidak ada | Redirect ke halaman pengganti, atau biarkan kalau memang tidak ada penggantinya |
URL marked noindex | 4 | Halaman yang sengaja tidak diindeks | Pastikan bukan halaman penting |
Page with redirect | 3 | URL yang dialihkan ke URL lain | Normal, tidak perlu tindakan |
Soft 404 | 1 | Halaman bertuliskan "tidak ditemukan" tapi merespons sukses | Ubah agar merespons 404 atau 410, atau isi halamannya |
Alternate page with proper canonical | 1 | Versi lain dari halaman yang sudah terindeks | Tidak perlu tindakan |
Crawled, currently not indexed | 4 | Sudah dibaca Google tapi belum diindeks | Perbaiki isinya kalau penting, lalu tunggu |
Sebagian besar ternyata sisa URL WordPress lama. Cara membereskannya akan dibahas di Catatan Praktik berikutnya.
Langkah 3: Sitemaps
Pastikan sitemap sudah dikirim, statusnya berhasil dibaca, dan jumlah URL yang ditemukan masuk akal. Sitemap rizqiakbar.com berisi 52 URL. Kalau angkanya jauh lebih besar dari jumlah halaman yang kamu kenal, biasanya ada halaman tag, arsip, atau lampiran yang ikut masuk.
Langkah 4: URL Inspection untuk halaman terpenting
Pilih lima halaman yang paling penting untuk bisnismu, misalnya beranda, halaman layanan, dan kontak. Untuk masing-masing, buka URL Inspection, klik Test live URL, lalu lihat halaman yang diuji. Di sinilah aku memastikan Google sudah melihat situs yang baru, bukan versi WordPress. Kalau halaman penting belum terindeks, klik Request indexing.
Langkah 5: Cek status setiap URL di sitemap
Terakhir, buka setiap URL di sitemap dan periksa dua hal: kode responsnya 200, dan tag canonical-nya menunjuk ke dirinya sendiri. Untuk situs kecil, versi gratis Screaming Frog cukup, karena bisa memeriksa sampai 500 URL dan membaca sitemap dalam mode daftar (Screaming Frog). Hasil di rizqiakbar.com: 52 dari 52 URL merespons 200 dengan canonical yang benar.
Yang aku pelajari
- Skor PageSpeed bukan segalanya. Google tetap mendahulukan konten yang paling relevan, bahkan kalau pengalaman halamannya kurang baik.
- Daftar "tidak terindeks" terlihat menakutkan, padahal sebagian besar isinya normal. Yang penting adalah halaman bisnis utama sudah terindeks.
- Simpan bukti di awal. Angka "sebelum" yang tidak tercatat tidak bisa dipakai sebagai bukti.
Versi budget terbatas
Pilihan | Biaya | Waktu | Hasil |
|---|---|---|---|
Dikerjakan sendiri dengan lima langkah ini | Gratis | Sekitar dua jam | Gambaran kondisi dasar dan daftar masalah yang jelas |
Tools berbayar seperti Ahrefs atau Semrush | Langganan bulanan | Lebih cepat untuk situs besar | Data tambahan seperti backlink dan pesaing |
Pakai jasa audit | Sekali bayar | Hampir tanpa waktumu | Daftar perbaikan berurutan, plus penjelasannya |
Kalau ingin auditnya dikerjakan dan dijelaskan, lihat audit SEO & GEO. Rentang waktu sampai hasil terlihat dibahas di berapa lama SEO memberi hasil.
Tulisan lain


